Adaptasi “New Normal” akibat COVID-19

Per 18 Mei 2020, hampir lima juta penduduk dunia terinfeksi COVID-19. 315 ribu diantaranya meninggal dunia akibat infeksi virus Corona yang menyebabkan distres pernafasan akut. Beberapa negara telah menunjukkan signifikansi terhadap pengendalian penularan, namun lainnya masih berjuang untuk membatasi ruang gerak virus. di Indonesia, kasus konfirmasi Corona terus meningkat, bahkan dengan jumlah yang berlipat.

Direktur Eksekutif WHO Health Emergency Programme, Dr. Mike Ryan dalam konferensi pers pada Rabu, 13 Mei 2020 menyatakan bahwa COVID-19 dapat berakhir menjadi sebuah endemi. Dimungkinkan juga virus ini tidak akan dapat dieliminasi. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah dengan penemuan vaksin yang tepat. Hal ini tidak mampu untuk eradikasi Corona, namun membantu untuk mengendalikan penularannya.

Selain berdampak pada fisiologis pasien yang terinfeksi, Corona juga mempengaruhi kesehatan mental individu dan komunitas. Gangguan mental ini dapat muncul karena berlangsungnya isolasi, ketakutan, ketidakjelasan dan dampak ekonomi dalam waktu yang cukup lama. Kelompok usia dewasa muda dan tenaga kesehatan profesional merupakan dua pihak yang sangat terdampak terhadap perubahan situasi yang begitu cepat. Pemerintah dan masyarakat perlu untuk memperhatikan kesehatan mental dan kesejahteraan guna mempertahankan kualitas hidup manusia.

Direktur Jenderal WHO dalam sesi pembuka media briefing pada 22 April 2020 memberikan pernyataan mengenai “New Normal”. Tatanan kehidupan baru yang lebih sehat, lebih aman dan penuh persiapan diharapkan muncul dalam waktu dekat. Tidak hanya terbatas pada aspek kehidupan individu, new normal juga mengacu terhadap bagaimana institusi/ negara anggota merespon penularan COVID-19. WHO menyarankan agar penemuan kasus, isolasi, pemeriksaan, perawatan, pelacakan dan karantina dilakukan dengan penuh tanggung jawab. Selain itu, pelibatan masyarakat juga dibutuhkan melalui edukasi dan pemberdayaan.

Dalam kesempatan tersebut, Direktur Jenderal WHO juga menyinggung tentang diskriminasi terkait COVID-19. Stigma dan pemberian label negatif telah meluas di berbagai negara sehingga perlu dilakukan perlawanan. Sejatinya, solidaritas perlu dibangun untuk menjaga kesehatan mental individu dan komunitas bukan membiarkan stigma dan diskriminasi terjadi.

Pandemi COVID-19 berdampak sangat luas dalam kehidupan global. Aspek ekonomi, sosial dan budaya masyarakat dituntut untuk menyesuaikan situasi selama pandemi berlangsung. Pada aspek perdagangan, penundaan pembelian produk tertentu dirasa bijak untuk saat ini. Hal ini berdampak pada melemahnya fungsi produsen dan distributor. Bisnis non-esensial mengalami pelemahan bahkan tutup, pariwisata dan hiburan misalnya.

Sisi sosial dan budaya masyarakat berubah cukup cepat. Adaptasi dilakukan karena beragam pembatasan dalam kehidupan sehari-hari. Kini, orang-orang berfokus pada peningkatan pengalaman virtual dengan bantuan teknologi. Besarnya permintaan untuk tetap terhubung meski dibatasi oleh jarak menuntut perusahaan telekomunikasi untuk memberikan layanan yang terbaik. Di sisi lain, hal ini telah menciptakan budaya baru dalam suasana isolasi dan karantina. Diantaranya adalah meluasnya interaksi sosial jarak jauh, misalkan dalam sesi panggilan video. Physical distancing yang berlaku telah mampu mendefinisikan intimasi sosial untuk memenuhi kebutuhan dasar manusia.

Aspek kesehatan tidak dapat dilewatkan untuk mencegah dan menanggulangi COVID-19. Terlepas adanya fasilitas kesehatan serta sumber daya manusia yang memadai, menjaga agar kurva penularan tetap landai sangat diperlukan. Hal ini mampu memberi jeda bagi fasilitas dan tenaga kesehatan untuk rehat sejenak selama memberikan perawatan bagi pasien COVID-19. Kapasitas rumah sakit tentu terbatas, sehingga menjaga diri untuk terhindar dari infeksi merupakan lini utama dalam penanggulangan COVID-19.

Seiring waktu berlalu, individu semakin sadar terhadap pentingnya menjaga kesehatan. Penerapan berbagai pola hidup sehat semakin meluas di kalangan masyarakat. Gerakan untuk memenuhi konsumsi gizi seimbang, memperbanyak porsi sayuran dan buah dapat diidentifikasi di komunitas masyarakat. Meski frekuensi dan jenis olahraga luar ruangan terbatas, kini orang-orang berusaha untuk melakukan latihan fisik di dalam rumah. Penerapan perilaku hidup bersih dan sehat, seringnya mencuci tangan sesuai dengan rekomendasi WHO, penyediaan fasilitas hygiene mudah ditemukan dimana-mana untuk saat ini.

Kini, hampir setiap individu di seluruh dunia telah memahami perlunya untuk beradaptasi dengan tatanan kehidupan baru. Sebagai organisme yang memiliki kemampuan berpikir, perubahan perilaku untuk menyesuaikan keadaan alam merupakan keniscayaan untuk tetap menjaga kelangsungan hidup. Tetap di rumah, tetap sehat dan jauhi penularan virus Corona!.