Penanganan COVID-19 di Asia Tenggara

Sejak dilaporkan kali pertama sebagai unknown caused Pneumonia di Wuhan pada 31 Desember 2019, kini novel coronavirus (2019-nCOV) telah menyebar ke seluruh dunia. Satu bulan setelah waktu tersebut, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan pandemi yang terjadi sebagai Public Health Emergency of International Concern. Pada 11 Februari, 2019-nCOV disepakati untuk disebut sebagai COVID-19.

COVID-19 merupakan penyakit yang disebabkan oleh Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus 2 (SARS-CoV-2). Penyakit ini mengakibatkan peradangan jaringan paru, ditandai dengan munculnya gejala klinis yang meliputi: batuk, pilek, nyeri tenggorokan, nyeri otot dan sesak nafas. Pada kasus infeksi yang berat, COVID-19 dapat menyebabkan distress pernafasan akut yang mengancam nyawa.

Penularan coronavirus disease terjadi melalui kontak droplet saluran pernafasan penderita. Partikel kecil (berukuran hingga mikrometer) yang mengandung virus ini menyebar melalui batuk, bersin atau saat berbicara. Droplet dapat menjangkau jarak 1 meter dan melekat pada benda di sekitar penderita. Meski demikian, droplet tidak bertahan di udara dalam waktu yang lama.

Mencegah penularan virus corona dapat dilakukan dengan menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat. WHO merekomendasikan untuk secara berkala mencuci tangan dengan sabun, tingkatkan konsumsi gizi seimbang, penerapan etika batuk dan bersin, serta menjaga jarak aman (physical distancing). Dalam konteks yang lebih luas, kebijakan untuk mencegah meluasnya virus corona dilakukan oleh pemerintah di berbagai negara, diantaranya: pembatasan mobilitas penduduk, peniadaan aktivitas belajar dan mengajar, pengurangan aktivitas berkelompok, hingga karantina wilayah.

Akhir Januari hingga Februari, penularan virus masih terpusat di China. Hingga kemudian pada pertengahan Maret, kasus konfirmasi COVID-19 ditemukan meluas hingga Amerika dan Eropa. Asia Tenggara juga terdampak COVID-19 dengan peningkatan drastis kasus konfirmasi sejak bulan Maret. Beberapa negara mampu mengendalikan penularan dan menekan angka infeksi, namun juga tidak sedikit negara yang terus melawan COVID-19.

Negara-negara di Asia Tenggara menggunakan pendekatan yang berbeda untuk menangani virus Corona. Kebijakan karantina, lockdown, penutupan wilayah dan larangan perjalanan menyesuaikan konteks sosial budaya masyarakat lokal. Namun secara umum, keseluruhan negara di regional Asia Tenggara memberikan stimulus akibat melemahnya aktivitas ekonomi dan pariwisata.


Per 11 Mei 2020, kasus konfirmasi COVID-19 tertinggi terjadi di Singapura. Indonesia menempati posisi kedua, namun tertinggi dalam hal kasus kematian akibat virus corona.


Secara umum, negara-negara Asia Tenggara menutup perbatasan pada pertengahan maret. Penutupan perbatasan Indonesia dilakukan pada 19 Maret oleh Kementerian Luar Negeri. Malaysia menutup perbatasan lebih awal, yaitu pada 16 Maret. Singapura dan Vietnam mengikuti pada 22 Maret dan 31 Maret.

Sejak Februari, Indonesia tampak lemah dalam hal pembatasan mobilitas penduduk. Pemerintah pusat dan daerah seakan memiliki pola komunikasi yang kurang efektif, ditunjukkan dengan beragam kebijakan yang diambil dalam mengatasi corona. Perbedaan kebijakan ini kontras tampak antara Pemerintah Republik Indonesia dan Pemerintah Daerah Khusus Ibukota Jakarta. Bahkan dalam hal penerapan lockdown, pemerintah daerah perlu mendapatkan otorisasi dari pemerintah pusat dalam hal ini Kementerian Kesehatan.

Malaysia menunjukkan langkah yang lebih serius dalam pembatasan mobilitas penduduk. Dua hari setelah penutupan perbatasan, Perdana Menteri Malaysia menetapkan “Movement Control Order”, kebijakan untuk menutup aktivitas non esensial termasuk aktivitas olahraga, sosial, keagamaan dan budaya. Kebijakan ini diperkuat dengan pengerahan Malaysian Armed Forces yang melibatkan pasukan serta pesawat tanpa awak. Ancaman pidana enam bulan penjara berlaku bagi warga negara yang melanggar ketentuan MCO.

Singapura sejatinya telah menunjukkan keberhasilan dalam pengendalian virus corona. Namun, gelombang infeksi kedua terjadi seiring pandemi yang meluas di Asia Tenggara. Dimulai pada 3 April, aktivitas pendidikan dan non-esensial ditiadakan selama satu bulan. Partial lockdown diberlakukan hingga ancaman pidana enam bulan dan denda sebesar 7000 dolar mengancam individu yang melanggar ketentuan ini.

Thailand menunjukkan kebijakan yang tidak konsisten dalam hal pembatasan mobilitas penduduk. Kritik media massa mengarah pada penerapan langkah yang lamban serta lemahnya pola komunikasi publik. Mengingat pariwisata merupakan sektor ekonomi yang bermakna, penutupan perbatasan menjadi hal yang sulit bagi Pemerintah Thailand. Peraturan terkait situasi tanggap darurat diterbitkan pada 26 Maret yang memuat wewenang pemerintah untuk membatasi perjalanan domestik, perkumpulan sosial serta pembatasan media. Satu pekan setelah kebijakan tersebut berlaku, Perdana Menteri Thailand mengarahkan warga untuk tetap berada di rumah. Kepolisian dan tentara dilibatkan untuk menjaga perbatasan serta menjaga agar masyarakat tetap berada di rumah. Denda senilai 40.000 THB mengancam masyarakat yang melanggar ketentuan ini.

Vietnam melakukan langkah yang strategis dalam penanganan virus corona. Pembatasan perjalanan diberlakukan sejak akhir Januari di Vietnam. Kebijakan yang lebih ketat berlaku pada akhir Maret. Pemeriksaan saat kedatangan menjadi kunci keberhasilan Vietnam dalam membatasi ruang penularan virus corona. Kebijakan lockdown nasional yang berlaku sejak 1 April memperkuat langkah pemerintah Vietnam dalam melawan COVID-19.

Kebijakan negara-negara Asia Tenggara berpengaruh pada tren penularan COVID-19. Vietnam, Malaysia dan Thailand menunjukkan grafik yang landai dibandingkan Indonesia dan Singapura. Tentu, pengendalian penularan COVID-19 bukanlah hal yang sederhana. Konteks politik, sosial dan budaya masyarakat melekat pada pertimbangan setiap pemangku kebijakan. Kepatuhan terhadap kebijakan yang diberlakukan juga mempengaruhi keberhasilan pengendalian COVID-19. Pemberlakuan sanksi yang tegas disertai dengan penegakan hukum menunjukkan hasil yang signifikan pada rendahnya kasus corona.

Sebagai warga negara Indonesia yang baik sudah sepatutnya untuk mengikuti kebijakan pemerintah. Beberapa oknum warga seakan abai terhadap pembatasan aktivitas maupun Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di beberapa daerah. Hal ini sejatinya berisiko meningkatkan angka kejadian infeksi corona. Mari bersama-sama untuk menaati ketentuan pembatasan aktivitas serta menerapkan pola hidup bersih dan sehat agar penularan COVID-19 dapat dikendalikan.

Penulis: Dimas Sumunar

Referensi:

  • CSIS Commentaries DMRU-051-EN. 16 April 2020. COVID-19 in Southeast Asia:
    10 Countries, 10 Responses by Shafiah F. Muhibat, Head, Department of International Relations, CSIS Indonesia
  • Statistics and Research Coronavirus (COVID-19) Cases by Max Roser, Hannah Ritchie, Esteban Ortiz-Ospina and Joe Hasell, accessed from https://ourworldindata.org/covid-cases
  • Strengths and Vulnerabilities in Southeast Asia’s response to the Covid-19 Pandemic.
    https://www.csis.org/analysis/strengths-and-vulnerabilities-southeast-asias-response-covid-19-pandemic
  • COVID-19 and Southeast Asia: Don’t be distracted, stand behind WHO.
    https://www.thejakartapost.com/academia/2020/04/15/covid-19-and-southeast-asia-dont-be-distracted-stand-behind-who.html

Author: Admin Carenusa

Program Indonesia Sehat dengan Pendekatan Keluarga (PIS-PK) adalah salah satu strategi operasional pembangunan kesehatan yang ditetapkan oleh Kementrian Kesehatan Indonesia untuk dilaksanakan tahun 2015-2019. Strategi ini merupakan perluasan pengembangan dari upaya Perawatan Kesehatan Masyarakat (Perkemas) yang berfokus kepada keluarga sebagai unit terkecil dalam masyarakat. Dengan pendekatan ini, diharapkan pemberi pelayanan kesehatan mampu mengerti dan mengetahui secara langsung masalah kesehatan yang berhubungan dengan PHBS secara menyeluruh/holistik. Faktor resiko yang terpantau dengan baik, pemaparan informasi yang lancar dan sesuai dengan kebutuhan, juga pembinaan langsung yang terencana dengan baik tentunya akan menambah efektifitas dan tercapainya tujuan dari Program Indonesia Sehat. Carenusa hadir di tengah masyarakat untuk turut berperan dalam mewujudkan indonesia sehat. Melalui berbagai pelayanan keperawatan yang ada, carenusa akan terus berkembang dengan keluarga/masyarakat sebagai sasaran utamanya. Dengan langkah ini, carenusa akan terus mendukung dan membantu pembangunan paradigma sehat di dalam lingkup keluarga dalam masyarakat Indonesia.