Rawat Luka Diabetes bersama Carenusa

Jumlah penderita diabetes di seluruh dunia semakin meningkat. Diperkirakan, pada 2035 nanti sebanyak 592 juta penduduk dunia hidup dengan diabetes, bahkan 10 tahun berikutnya dapat mencapai 629 juta.

Estimasi terakhir yang dilakukan oleh International Diabetes Federation tahun 2013 melaporkan bahwa 392 juta pasien mengidap diabetes dan 175 diantaranya bahkan belum terdiagnosis. Di antara negara-negara Asia Tenggara, setiap satu dari lima penduduk di regional ini menderita diabetes. Indonesia mengalami peningkatan proporsi penderita diabetes sebanyak 2 kali lipat sejak 2007. Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar tahun 2013, jumlah penderita diabetes melitus mencapai 12.191.564. Sementara itu, penduduk dengan toleransi glukosa terganggu memiliki proporsi yang lebih tinggi yaitu 52.830.111 dan bahkan pengidap gula darah puasa terganggu sebanyak 64.668.297.

Diabetes adalah penyakit akibat ketidakstabilan kadar glukosa dalam darah. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, diabetes melitus merupakan gangguan metabolisme karbohidrat karena kelenjar pankreas tidak mampu menyekresi insulin yang cukup dengan gejala adanya gula dalam urine, turunnya bobot badan, selalu haus dan lapar, dan banyak kencing; keadaan kekurangan insulin dengan akibat glukosa tidak dapat diolah oleh badan sehingga kadar glukosa dalam darah meninggi dan dikeluarkan dalam urine . Masyarakat Indonesia menyebut diabetes melitus sebagai penyakit kencing manis atau penyakit gula.

Seseorang dikatakan menderita diabetes jika memenuhi beberapa kriteria (Kementerian Kesehatan RI, 2013). Kriteria tersebut adalah jika nilai gula darah sewaktu >200mg/dl disertai empat gejala positif; nilai gula darah puasa >126 mg/dl dengan empat gejala positif; atau nilai GDPP (gula darah  dua jam setelah makan) <126 mg/dl dan atau keempat gejala khas diabetes tidak semua positif. Individu juga dapat dikatakan mengalami gejala pra-diabetes dengan adanya Toleransi Glukosa Terganggu dengan nilai GDPP 140-199 mg/dl. Kemudian, kategori GPT Terganggu (GDPT) adalah individu dengan rentang nilai GPD 100-125 mg/dl.

Diabetes melitus dapat menyebabkan komplikasi pada sistem dan fungsi organ tubuh. Sistem syaraf dan pembuluh darah adalah bagian yang paling rentan diserang oleh diabetes (Kementerian Kesehatan RI, 2013). Komplikasi yang umum terjadi pada penderita diabetes yang tidak terkendali adalah:

  1. Peningkatan risiko penyakit jantung dan stroke
  2. Neuropati (syaraf rusak) di kaki yang menyebabkan luka, infeksi hingga perlu diamputasi
  3. Retinopati diabetikum, kerusakan retina yang dapat mengakibatkan kebutaan.
  4. Gagal ginjal
  5. Kematian

Luka diabetes yang terdapat di bagian tubuh membutuhkan perawatan secara rutin. Perawatan luka juga perlu dilakukan dengan prinsip steril agar proses penyembuhan dapat berlangsung lebih cepat. Selain itu, penggunaan balutan luka (wound dressing) modern sangat membantu pemulihan kerusakan jaringan akibat luka diabetes. Balutan luka yang sesuai dengan jenis luka mendukung penyembuhan luka untuk melalui beberapa tahap, yaitu vaskularisasi, respons inflamasi, proliferasi, granulasi, dan maturasi.

Carenusa memiliki layanan perawatan luka oleh profesional yang bersertifikasi. Perawat Carenusa, telah melalui serangkaian pelatihan dan mendapatkan sertifikasi Wound Care Clinician Association. Sertifikasi yang dimiliki perawat dari Asosiasi Perawat Luka Indonesia tersebut merupakan bentuk tanggung jawab Carenusa untuk memberikan pelayanan yang berkualitas. Layanan ini dapat diakses melalui situs Carenusa, atau Whatsapp ke nomor handphone 0852-3641-4258. Pemesanan jasa perawatan luka diabetes dilakukan dengan penjadwalan serta kunjungan berkala ke kediaman pasien.

 

Referensi:

Hamshere, R. (2007). JWC_9_6_299-300.qxd, 9(6), 1–2. Retrieved from https://mail.google.com/mail/u/0/%0Apapers3://publication/uuid/A7C513DE-8951-449D-8527-B905A7E93EF6

International Diabetes Foundation. (2019). International Diabetes Federation – Facts &amp; figures. Retrieved March 10, 2019, from https://www.idf.org/aboutdiabetes/what-is-diabetes/facts-figures.html

Jarrett, L. (2013). Prevention and management of neuropathic diabetic foot ulcers. Nursing Standard, 28(7), 55–65. https://doi.org/10.7748/ns2013.10.28.7.55.e7346

Kementerian Kesehatan RI. (2013). Situasi dan Analisis Diabetes. (Kementerian Kesehatan RI, Ed.) (I). Jakarta: Kementerian Kesehatan RI. https://doi.org/10.1002/ajmg.a.35913

Rohmayanti, ., & Handayani, E. (2017). Modern wound care application in diabetic wound management. International Journal of Research in Medical Sciences, 5(2), 702. https://doi.org/10.18203/2320-6012.ijrms20170178

https://static.parade.com/wp-content/uploads/2017/10/diabetes-reverse-ftr.jpg

Author: Admin Carenusa

Program Indonesia Sehat dengan Pendekatan Keluarga (PIS-PK) adalah salah satu strategi operasional pembangunan kesehatan yang ditetapkan oleh Kementrian Kesehatan Indonesia untuk dilaksanakan tahun 2015-2019. Strategi ini merupakan perluasan pengembangan dari upaya Perawatan Kesehatan Masyarakat (Perkemas) yang berfokus kepada keluarga sebagai unit terkecil dalam masyarakat. Dengan pendekatan ini, diharapkan pemberi pelayanan kesehatan mampu mengerti dan mengetahui secara langsung masalah kesehatan yang berhubungan dengan PHBS secara menyeluruh/holistik. Faktor resiko yang terpantau dengan baik, pemaparan informasi yang lancar dan sesuai dengan kebutuhan, juga pembinaan langsung yang terencana dengan baik tentunya akan menambah efektifitas dan tercapainya tujuan dari Program Indonesia Sehat. Carenusa hadir di tengah masyarakat untuk turut berperan dalam mewujudkan indonesia sehat. Melalui berbagai pelayanan keperawatan yang ada, carenusa akan terus berkembang dengan keluarga/masyarakat sebagai sasaran utamanya. Dengan langkah ini, carenusa akan terus mendukung dan membantu pembangunan paradigma sehat di dalam lingkup keluarga dalam masyarakat Indonesia.